Rabu, 13 November 2013

konsep kepemimpinan menurut ki hajar dewantara



1.             Konsep Pemimpin dan Proses 5 K
Pemimpin adalah sosok manusia yang dapat memberikan ketauladanan kepada para pengikutnya (ing ngarso sung tulodo), membangun kehendak untuk menghasilkan suatu karya/ produk asli ditengah-tengah para pengikutnya (ing madyo mangun karso), dan mampu memberikan dorongan untuk lebih bersemangat untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih bermanfaat bagi para pengikutnya (tut wuri handayani).
Seorang pemimpin bangsa harus menguasai dan memiliki pemahaman Ilmu Kebangsaan sebagai pengetahuan yang bermakna dan berarti serta tepat guna bagi pembangunan dan pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, ketauladanan dapat berlangsung sesuai dengan jati diri bangsa.
Begitu juga, seorang pemimpin secara garis besar harus menguasai dan memiliki pemahaman tentang Teknik Produksi untuk mengambangkan suatu produk berkualitas secara orisinil. Sehingga, dapat memotivasi kehendak rakyat untuk menghasilkan produk-produk unggulan.
Lebih penting lagi, seorang pemimpin harus menguasai dan memiliki penguasaan Manajemen untuk menggerakkan sumber daya yang ada, meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya finansial, dan sumber daya organisasi. Sehingga, dorongan untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang bermanfaat dapat terus dilaksanakan sesuai dengan tuntutan kehidupan bangsa dan Negara yang terus akan berkembang.
Ilmu (Science), teknik (Engineering), dan manajemen (Management) adalah merupakan tiga faktor utama yang membentuk Teknologi dan Norma. Oleh karena itu, seorang pemimpin bangsa harus benar-benar menguasai dan memiliki pemahaman tentang teknologi dan norma (aturan manusia). Artinya, seorang pemimpin bangsa dengan kemampuan penguasaan teknologi dan norma kebangsaan dan kenegaraan akan mampu menjalankan peran dan fungsi dari ketauladanan, motivator, dan pendorong untuk pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sehingga, kepemimpinan dari seorang pemimpin dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengaktualisasikan moralnya kedalam suatu tatanan etika yang berlaku disuatu lingkungan hidup. Dalam hal ini pemimpin akan menggerakkan moral yang subyektif masuk ke dalam tatanan etika yang selalu memiliki kebenaran objektif, yaitu suatu kebenaran yang diterima oleh semua orang yang hidup di lingkungan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar