1.
Konsep Pemimpin dan Proses 5 K
Pemimpin adalah sosok manusia yang dapat memberikan ketauladanan kepada
para pengikutnya (ing ngarso sung tulodo), membangun kehendak untuk
menghasilkan suatu karya/ produk asli ditengah-tengah para pengikutnya (ing
madyo mangun karso), dan mampu memberikan dorongan untuk lebih bersemangat
untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih bermanfaat bagi para pengikutnya (tut
wuri handayani).
Seorang pemimpin bangsa harus menguasai dan memiliki pemahaman Ilmu
Kebangsaan sebagai pengetahuan yang bermakna dan berarti serta tepat guna
bagi pembangunan dan pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga,
ketauladanan dapat berlangsung sesuai dengan jati diri bangsa.
Begitu juga, seorang pemimpin secara garis besar harus menguasai dan
memiliki pemahaman tentang Teknik Produksi untuk mengambangkan suatu
produk berkualitas secara orisinil. Sehingga, dapat memotivasi kehendak rakyat
untuk menghasilkan produk-produk unggulan.
Lebih penting lagi, seorang pemimpin harus menguasai dan memiliki
penguasaan Manajemen untuk menggerakkan sumber daya yang ada, meliputi
sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya finansial, dan sumber daya
organisasi. Sehingga, dorongan untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang
bermanfaat dapat terus dilaksanakan sesuai dengan tuntutan kehidupan bangsa dan
Negara yang terus akan berkembang.
Ilmu (Science), teknik (Engineering), dan manajemen (Management)
adalah merupakan tiga faktor utama yang membentuk Teknologi dan Norma. Oleh
karena itu, seorang pemimpin bangsa harus benar-benar menguasai dan memiliki
pemahaman tentang teknologi dan norma (aturan manusia). Artinya, seorang
pemimpin bangsa dengan kemampuan penguasaan teknologi dan norma kebangsaan dan
kenegaraan akan mampu menjalankan peran dan fungsi dari ketauladanan,
motivator, dan pendorong untuk pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sehingga, kepemimpinan dari seorang pemimpin dapat didefinisikan sebagai
kemampuan seseorang untuk mengaktualisasikan moralnya kedalam suatu tatanan
etika yang berlaku disuatu lingkungan hidup. Dalam hal ini pemimpin akan
menggerakkan moral yang subyektif masuk ke dalam tatanan etika yang selalu
memiliki kebenaran objektif, yaitu suatu kebenaran yang diterima oleh semua
orang yang hidup di lingkungan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar