Perkenankan saya menyampaikan pikiran saya mengenai “Dugaan” Penistaan Agama yang saat ini sedang ramai diperbincangkan di manapun dan oleh siapapun di negeri kita tercinta, Indonesia.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Yang Terhormat,
1. Bapak Presiden RI
2. Bapak Kapolri cq. Kabareskrim RI
3. Bapak Panglima TNI
4. Bapak Menteri Agama RI
5. Kemendikbud cq Pusat Bahasa Indonesia
6. Saudara saudara sebangsa dan Setanah Air
Perkenalan
Saya, Totong Sih Ariwanto, Mantan Lecturer/Dosen Bahasa Indonesia di Pusat Studi Asia Tenggara, Universitas Ho Chi Minh City, Vietnam, memberikan pendapat, dengan harapan , pendapat ini bisa dibaca dan dipertimbangkan oleh Bapak Bapak yang saya sebut di atas.
A. Bedah bersama Bahasa Indonesia
Bahasa yang kita pakai sehari hari ini sebenarnya sederhana dan cukup mudah dipahami oleh Bangsa Indonesia. Dalam kaidah KBBI suatu kalimat akan disebut lengkap jika memenuhi unsur SPOK (Subyek, Predikat , Obyek dan Keterangan).
Namun bisa saja kalimat itu hanya terdiri dari SPK, SPO, SP bahkan P!!!!
- Saya makan nasi pakai sendok (SPOK)
- Saya makan pakai sendok (SPK)
- Makan!! (P) Kalimat Perintah...
Perlu dimengerti , Bentuk Pasif dan Aktif HANYA hanyalah permasalahan Gramatika/Tata Bahasa. Maksudnya?.. Isi, makna ataupun esensi yang tersirat dalam suatu kalimat adalah diperankan oleh Predikat. Baik menggunakan bentuk Pasif maupun Aktif, makna atau isi kalimat TIDAK PERNAH BERUBAH.
Saya makan nasi atau Nasi saya makan, adalah kalimat YANG SAMA yang maknanya adalah Kegiatan MAKAN. Penggunaan Bentuk Aktif atau pasif hanya untuk MEMBEDAKAN bagian KALIMAT MANA yang akan ditonjolkan.
Ketika kita gunakan Bentuk Aktif: Saya makan nasi maka yang INGIN DITONJOLKAN / DITEGASKAN adalah Saya. Dalam hal ini ditegaskan yang makan nasi adalah saya BUKAN Badu, Bukan Budi, BUKAN Amir, BUKAN dia tapi SAYA.
Ketika kita gunakan Bentuk Pasif: Nasi saya makan, maka yang INGIN DITONJOLKAN / DITEGASKAN adalah Nasi. Dalam hal ini ditegaskan yang dimakan adalah NASI BUKAN Jagung, BUKAN pecel, BUKAN Cendol tapi NASI
SANGAT MUDAH DIPAHAMI.
Permasalah Utama.
Saat ini sebagian bangsa Indonesia ramai membicarakan Ucapan Gubernur DKI, Bapak Basuki Tjahaya Purnama (selanjutnya saya tulis BTP).
Ucpan BTP pada Menit ke 19:12 di Pulau Seribu.
Dibohongi PAKAI Surat Al Maidah 51 macem macem itu.
Saya takut masuk neraka, dibodohin itu.
Dengan membaca uraian saya di bagian atas..... akan SANGAT MUDAH menangkap arti , maksud ataupun makna kalimat yang diucapkan BTP.
Kita Bedah bersama
Dibohongi pakai Al Maidah 51, macem macem itu.
Ini kalimat tidak lengkap hanya ada P dan K. Tapi sudah cukup mengadung arti sesuai yang diinginkan oleh Predikat yaitu dibohongi atau jika bentuk Aktif...membohongi. Dalam menit sebelumnya, ucapan ini ditujukan kepada Ibu Ibu yang hadir. jadi makna dalam kalimat ini sudah sangat jelas yang dibohongi adalah Ibu Ibu (tentunya Ibu Ibu yang beragama Islam).
Yang tersirat dalam ucapan BTP adalah: Al Maidah dipakai sebagai alat untuk berbohong. Sangat jelas...
Baik dalam Bentuk Aktif maupun Pasif, makna kalimat tidak akan pernah berubah , karena Pesan utama dalam sebuah kalimat terlihat pada PREDIKAT.
Hanya saja ketika sebuah kalimat tidak ada Obyek (Kalimat Intransitif) tentu tidak bisa diubah menjadi bentuk aktif.
B. Pendapat saya Pribadi.
BTB sebagai Gubernur, sudah mengucapkan atau melontarkan Pernyataan bernada “INSULTING”, (Menuduh, mengina atapun melecehkan), itu sudah sangat jelas!!!!! Lihat mimik atau pun nada nya aktu bicara .
Sebagai Pengikut Non-Muslim (ini sama sekali bukan sara) SANGAT TIDAK PANTAS, dan SANGAT MELAMPAU BATAS, saya ulang SANGAT MELAMPAU BATAS, BTP sebagai pemimpin memasuki AREA keyakinan Orang Lain (Islam), MENGGUNAKAN ayat ayat Al Qur”an yang sangat DIsucikan oleh Umat Islam, dengan menuduh atau menghina sebagian orang Islam (dalam hal ini bisa Pemuka Agama Islam- Ulama, Kyai, Ustadz- yang menyampaikan Syiar Islam dan mungkin ayat lain dalam Al Quran, untuk menyeru Ummat Islam memilih Pemimpin yang SEIMAN) secara sadar atapun tidak sadar.
Lebih memprihatinkan, Pemeluk Agama lain (di Medsos) ikut “ Meng-COPAS”menafsirkan dan Ayat suci Al”Quran, demi memcari Pembenaran Ucapan Seoran BTP, yang merupakan Pemimpin bagi wqarga Jakarta.
Sebagai ILUSTRASI lain, banyak Video dan mungkin Kebaktian Sahabat kita yang NON MUSLIM , di mana Pendeta atau Pemuka Agama tersebut MENYERU kepada Jemaatnya untuk pilih AHOK(BTP). “Ahok itu pilihan Tuhan, Ahok itu Utusan Tuhan untuk Jakarta”. Kita pilih Pemimpin yang seiman... dsb..
Salahkah Pendeta yang menyampaikan ajakan tsb? SAMA SEKALI TIDAK SALAH, Bahkan KITA WAJIB MENGHORMATI seruan ITU. Itu Hak Mereka. Harus dihargai!!!!! Itulah Keyakinan yang TIDAK BOLEH DICAMPURI oleh Penganut agama lain. Islam pun tidak boleh memasuki area tersebut.......
Coba apa jadinya, maaf, ketika dalam seruan Kebaktian tersebut , ada yang masuk dan menyela “MAU SAJA DIBOHONGI PAKAI BIBEL!!!!! Tidak boleh kan... Pasti tidak boleh dan akan menimbulkan permasalahan serius.....
Ketika giliran Ulama menyampaikan seruan ini, kenapa semua bereaksi negative , Sara, bahkan Seorang Menteri Agama dan Presiden pun minta AGAMA TIDAK BOLEH DIPAKAI atupun DIBAWA UNTUK BERPOLITIK!!!!!!! Kenapa? Sekali kenapa????
Sangat DISESALKAN rujukan yang dipakai oleh seorang “AHLI BAHASA” Pusat Bahasa Indonesia, Ibu Yeyen Maryani, memberikan keterangan bahwa karena ini KALIMAT PASIF maka tidak ada unsur Penistaan. Saya sarankan kepada Mendikbud dalam hal ini Pusat Bahasa Indonesia, untuk mendiskusikan ulang Pernyataan Ahli Bahasa tsb., Karena pernyataan itu sekarang banyak “ di-COPAS” oleh Netizen tanpa mereka mengerti makna dari kalimat yang diucapkan BTP. Sekali lagi makna kalimat bukan ditentukan oleh bentuk Pasif ataupun Bentuk Aktif, tapi lebih ditentukan oleh Predikat...... dan akan LEBIH MENYESATKAN jika dipakai oleh Bareskrim sebagai Rujukan dalam MEMUTUSKAN KASUS INI.
Penutup
Bahwa sudah demikian adanya , Bangsa Indonesia ini terdiri dari berbagai Suku, Ras Agama dan Keyakinan. Ada yang perlu dipahami Jangan memasuki Urusan Agama yang Diyakini seseorang. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.
Bahwa kita hidup di Indonesia, tetangga dan bahkan Adik, kakak dan Saudara kita ada yang Islam, Katholik, KristenBudha, Hindu, Kong Hu Chu bahkan tidak ber- Tuhan. Itu urusan masing masing. Kita tetap hidup rukun berdampingan, bercanda tanpa menyinggung satu sama lainnya.
Bahwa, SAMPAI LEBARAN KUDA (meminjam istilah SBY, 2016) yang namanya Air dan Minyak Sayur, Tidak akan pernah bisa disatukan, Dikocok, Diudeg, dengan energy Sedahsyat Bom Atom pun, mereka tidak akan bersatu. Tetapi coba berikan warna yang indah pada air, minyak, letakkan dalam SATU gelas yang indah, biarkan saja begitu.... pasti akan menjadi suatu Ornamen yang indah dilihat dan mungkin dirasakan.
Demo yang dihadiri oleh Ratusan ribu Ummat Islam bukanlan Masalah Pilkada. Namun itu adalah Demo Sebagian Ummat dari berbagai wilayah Indonesia yang merasa Tersinggung hanya karena Kesombongan, Arogansi, Tutur kata yang tidak Bijak, merasa paling benar..... dari seorang Pemimpin yang ada di kita. I
Tentu akan indah jika kita memaafkan katanya begitu... Namun harus dingat.... kata kata itu telah terlontar, telah terucap, dan telah menyakiti Ummat Islam
Semoga keadilan MASIH bisa ditegakkan di Bumi Pertiwi, Indonesia. Jangan lagi ada Diskriminasi Hukum, tajam ke bawah Tumpul ke atas.
Saya sepenuhnya bertanggung jawab terhada isi tulisan ini.
Semoga Allah SWT memberikan hidayah bagi Pemimpin bangsa Ini untuk emngambil keputusan yang tepat dengan Rujukan yang tepat dan benar. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.
Bogor, November 2016
Totong Sih Ariwanto
Untuk kemaslahatan..monggo yang mau share....
Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli
kita sebagai orang indonesia asli seharus nya kita peduli terhadap kondisi bangsa ini
Senin, 07 November 2016
Minggu, 06 November 2016
Jokowi Cuci Tangan, di Belakang JK
*SUNATULLAH SEJARAH AKAN BERULANG KEMBALI* VIVA.co.id – *Guru Besar Universitas Pertahanan, Prof.Salim Said, menganalisis sikap Presiden Joko Widodo yang memberi perintah kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menemui pengunjuk rasa tanggal 4 November 2016.* Menurutnya, cara-cara seperti itu mengingatkannya tentang sosok Presiden RI pertama Soekarno kepada Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban, Soeharto tahun 1966 ihwal pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Said menyimpulkan, Presiden Jokowi sudah lepas tangan dalam penegakan hukum terhadap calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dengan mendelegasikan Wapres JK untuk memberikan jaminan kepada perwakilan demonstran. "Saya hanya ingin berbagi ingatan kepada anda, ketika kemarin Pak JK itu mengumumkan Ahok akan diperiksa dalam dua minggu, itukan adalah sebuah keputusan. Kita tahu itu perintah Pak Jokowi kepada Pak Wapres, karena Pak Jokowi tidak ada di Istana, saya tiba-tiba teringat Supersemar," kata Salim Said dalam diskusi bertajuk 'Setelah demo 411' di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 5 November 2016. Berdasarkan dokumen yang Ia temukan ketika melakukan penelitian dan menulis buku mengenai Presiden Soeharto, Orde Baru dan Gerakan Satu Oktober (Gestok), ada kegalauan Presiden Soekarno menghadapi desakan massa agar Presiden membubarkan PKI. Di satu sisi, Soekarno tidak bisa lagi mempertahankan PKI. Namun di sisi lain, ia tidak kuasa membubarkan PKI secara langsung, karena teori Nasakom PKI sudah digadang-gadangnya ke dunia internasional. "’Di mana muka saya,’ kata Bung Karno kepada Pak Harto. Kemudian Pak Harto jawab, 'serahkan kepada saya pak'. Saya temukan dokumen itu dalam penelitian saya, Supersemar itu sebenarnya tidak dramatis seperti kita bayangkan. Itu sudah understanding antara Pak Harto dengan Bung Karno, tanggung jawab diambil alih oleh Pak Harto untuk membubarkan PKI, sehingga Bung Karno tidak harus yang membubarkan PKI," Said menjelaskan. Mantan Duta Besar RI untuk Republik Ceko ini menilai tekanan yang dihadapi Presiden Jokowi terkait Ahok ini begitu kuat. Sehingga, muncul kesan bahwa Jokowi sebenarnya sudah lelah untuk 'membela' Ahok. "Pokoknya itu beban. Ahok itu sudah menjadi beban bagi Jokowi. Jokowi kan masih punya rencana lebih banyak, lebih dari dari sekadar rencana Ahok di Jakarta, after all, sebagian besar apa yang dikerjakan Ahok ini sebenarnya sudah dimulai oleh Jokowi. Idenya dari Jokowi, sekarang Jokowi itu capek," ujarnya. Karena itu, apa yang dilakukan Presiden Jokowi saat demo 4 November 2016 kemarin, kata Said, adalah pengulangan sejarah. Tapi bedanya, Ahok dinilainya sudah banyak menciptakan musuh, sehingga bahaya bila dipertahankan. Akhirnya, diberikan perintah kepada Wapres JK agar memutuskan. "Ahok menciptakan banyak musuh seperti saya bilang tadi, tiap pagi bangun dia lihat gadget, 'musuh gue siapa hari ini?’ Segala macam dia musuhi. Capek Jokowi. Tapi Jokowi juga seperti Bung Karno tidak mau membubarkan PKI, jadi lepaskan saja kepada Pak JK, dan Pak JK lah yang memutuskan bahwa dia akan diproses dalam dua minggu," jelasnya. Sayangnya, bila dua minggu nanti proses hukum terhadap Ahok mengenai kasus dugaan penistaan agama tidak juga ditingkatkan oleh Polri, maka Jokowi tidak bisa disalahkan. Pasalnya, proses hukum dua minggu adalah pernyataan JK di depan massa aksi, bukan dari Presiden Jokowi. "Dengan demikian Pak Jokowi datang tengah malam, dia bisa mengatakan saya tidak pernah memutuskan. Saya memang memberikan kekuasaan kepada Wapres, tapi saya tidak pernah bikin keputusan tentang bagaimana nasibnya Ahok, itu kerjanya JK, begitu," kata Said. *"Jadi sebagai orang yang mempelajari politik dan sejarah politik Indonesia, saya segera melihat itu, oh Jokowi sudah lepas tangan, kalau mau pakai kata lain, cuci tangan, 'Ahok you jalanin nasibmu, gua nggak mau mikul lu lagi, lu terlalu banyak mintanya. Gua capek'," ucap Salim*. (ase)
Rabu, 13 November 2013
konsep kepemimpinan menurut ki hajar dewantara
1.
Konsep Pemimpin dan Proses 5 K
Pemimpin adalah sosok manusia yang dapat memberikan ketauladanan kepada
para pengikutnya (ing ngarso sung tulodo), membangun kehendak untuk
menghasilkan suatu karya/ produk asli ditengah-tengah para pengikutnya (ing
madyo mangun karso), dan mampu memberikan dorongan untuk lebih bersemangat
untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih bermanfaat bagi para pengikutnya (tut
wuri handayani).
Seorang pemimpin bangsa harus menguasai dan memiliki pemahaman Ilmu
Kebangsaan sebagai pengetahuan yang bermakna dan berarti serta tepat guna
bagi pembangunan dan pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga,
ketauladanan dapat berlangsung sesuai dengan jati diri bangsa.
Begitu juga, seorang pemimpin secara garis besar harus menguasai dan
memiliki pemahaman tentang Teknik Produksi untuk mengambangkan suatu
produk berkualitas secara orisinil. Sehingga, dapat memotivasi kehendak rakyat
untuk menghasilkan produk-produk unggulan.
Lebih penting lagi, seorang pemimpin harus menguasai dan memiliki
penguasaan Manajemen untuk menggerakkan sumber daya yang ada, meliputi
sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya finansial, dan sumber daya
organisasi. Sehingga, dorongan untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang
bermanfaat dapat terus dilaksanakan sesuai dengan tuntutan kehidupan bangsa dan
Negara yang terus akan berkembang.
Ilmu (Science), teknik (Engineering), dan manajemen (Management)
adalah merupakan tiga faktor utama yang membentuk Teknologi dan Norma. Oleh
karena itu, seorang pemimpin bangsa harus benar-benar menguasai dan memiliki
pemahaman tentang teknologi dan norma (aturan manusia). Artinya, seorang
pemimpin bangsa dengan kemampuan penguasaan teknologi dan norma kebangsaan dan
kenegaraan akan mampu menjalankan peran dan fungsi dari ketauladanan,
motivator, dan pendorong untuk pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sehingga, kepemimpinan dari seorang pemimpin dapat didefinisikan sebagai
kemampuan seseorang untuk mengaktualisasikan moralnya kedalam suatu tatanan
etika yang berlaku disuatu lingkungan hidup. Dalam hal ini pemimpin akan
menggerakkan moral yang subyektif masuk ke dalam tatanan etika yang selalu
memiliki kebenaran objektif, yaitu suatu kebenaran yang diterima oleh semua
orang yang hidup di lingkungan tersebut.
Senin, 11 November 2013
PEMILIHAN UMUM ADALAH SISTEM DEMOKRASI YANG DI TERAPKAN DI INONESIA
PEMILU MEMBINATANGKAN MANUSIA INDONESIA:
"PILPRES-PILKADA-PILLEG Pemilu Lainnya" Telah Menghancurkan ETIKA DAN
MORAL BANGSA!
Aristoteles menyatakan demokrasi dengan pemilu untuk penghitungan jumlah suara terbanyak adalah BURUK!
Bila kita ilustrasikan dengan
binatang bahwa setiap binatang itu memiliki suara yang berbeda-beda. Kalau dari
suara itu kita hitung jumlahnya, kita akan tahu binatang apa dengan suara
terbanyak?
Misalnya, suara
kambing berbeda dengan suara kerbau berbeda juga dengan suara sapi berbeda juga
dengan suara ayam berbeda juga dengan suara harimau dan berbeda dengan suara
binatang-binatang lainnya...Hanya manusia bodoh dan bersedia dibinatangkan lah
yang mau ikut pemilu. Bahasa lainnya, PEMILU itu dapat dikatakan sebagai sarana
'MEMBINATANGKAN MANUSIA'. Manusia itu tidak menggunakan SUARA, tetapi menggunakan
AKAL untuk mengangkat pemimpinnya!
Pancasila dasar
Indonesia merdeka telah menunjukkan itu (penggunaan akal sehat dan waras di
dalam mengangkat pemimpin) dengan jelas dan gamblang. UUD '45 konstitusi negara
RI dalam TATANAN SISTEM NKRI pun tidak melegitimasi dilaksanakannya PEMILU.
Tetapi, UUD 2002 (UUD '45 yang diubah oleh MPR-RI 1999-2004) lah yang
melegitimasi keberadaan partai-partai politik dan pemilu sebagai sarana untuk
mengangkat pejabat tinggi negara RI. Sehingga, Rakyat Indonesia, akhirnya
dewasa ini, telah menjadi bangsa yang rusak etika dan moralnya! Kembalilah kita
kepada PANCASILA dan UUD '45! STABILKAN SEGERA PREAMBULE UUD '45! ASHK.
Jumat, 08 November 2013
Epistimologi Bangsa Indonesia (EBI)
Setiap "Nama" memiliki:
(1) Unsur pembentuk;
(2) Senyawa dan zatnya yang berbeda-beda;
(3) Sifat yang yang tidak sama; dan
(4) Bentuk.
Makanya "Nama" itu adalah
suatu kepastian.
Misalnya Gula sebagai "Nama" memiliki:
Misalnya Gula sebagai "Nama" memiliki:
(1) Unsur C (Carbon), H (Hidrogen),
dan O (Oksigen) sebagai pembentuk;
(2) C6H12O6 sebagai
senyawanya dan Glukosa adalah zatnya;
(3) Rasa manis
adalah sifatnya; dan
(4) Padat dan
cair adalah bentuknya.
Jadi kalau tidak memenuhi persyaratan tersebut "PASTI BUKAN
GULA."
Inipun bisa diterapkan untuk MENGURAI APA ITU Bangsa Indonesia dan NKRI sebagai "Nama." KITA AKAN mencoba untuk menguraikannya!
Inipun bisa diterapkan untuk MENGURAI APA ITU Bangsa Indonesia dan NKRI sebagai "Nama." KITA AKAN mencoba untuk menguraikannya!
NAMA: Bangsa Indonesia
- Unsur Pembentuk: Yong-yong (pemuda-pemuda)
- Senyawa/Zatnya : Orang Indonesian Asli
- Sifatnya: Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Rakyat Indonesa
- Bentuknya: Pemuda Pergerakan
Agus Salim Harimurti Kodri, Kepala GARDU BESAR PEJUANG TANPA
AKHIR (PETA).
bagaimana keadaan bangsa indonesia hari ini ?
Nama : Negara Republik Indonesia (NRI)
- Unsur Pembentuknya : Komisi Pemilihan Umum (KPU)
- Senyawa/Zatnya: Oramg Indonesia Asli
- Sifatnya : Menindas Rakyat Indonesia
- Bentuknya: Partai-Partai.
By: Lalu Samsul Rijal (Djong Lombok)
analisis artikel tentang kelaparan yang terjadi di seluruh dunia akibat sistem pemerintahan yang demokrasi
Artikel
Lalu Syamsurizal
1
DARI 8 PENDUDUK DUNIA KELAPARAN
Sebanyak
842 juta orang mengalami kelaparan kronis pada 2011-2013 atau sekitar 12 persen
dari total penduduk dunia.
Jakarta
HN, satu dari delapan orang di dinia mengalami kelaparan parah, demikian
laporan badan pangan dunia (FAO) , selasa (01/10). Sekaligus memperingatkkan
para pemimpin dunia sebagaian wilayah dunia akan gagal menurunkan angka
kelaparan ini pada 2015.
Dalam
laporan terkait ketahanan pangan FAO memperkirakan sebanyak 842 juta orang mengalami
kelaparan kronis pada 2011-2013 atau sekitar 12 persen dari total penduduk
dunia. Jumlah penderita kelaparan di seluruh dunia ini turun 17 persen dari
1990-1992.
Angka
baru ini lebih rendah dari estimasi terakhir yaitu 868 juta orang pada 2010-2012
dan 1,2 miliyar orang pada 2009, meski menunjukkan tren menurun, namu upaya
untuk mencapai target millenium development goals (MDG) yaitu menurunkan angka
kelaparan hingga separuhnya pada 2015 akan sulit tercapai.
Penyebabnya
banyak negara yang belum mencapai tujuan yang diadopsi para pemimpin dunia di
PBB pada 2000.
“negara-negara
itu yang mengalami konflik selama dua dekade terakhir memiliki peluang terbesar
mengalami kemunduran dalam penurunan angka kelaparan. “ demikian laporan FAO.
Negara-negara
tak berpantai menghadapi tantangan besar untuk mengakses pasar dunia .
sementara negara-negara dengan infrastruktur buruk dan institusi lemah
menghadapi masalah tambahan lanjut laporan tersebut.
Menurut
kriteria FAO program pangan dunia (WFF) dan dana international untuk
pembangunan pangan (FAD) kelaparan
adalah kondisi disaat masyarakat tidak memiliki cukup makanan untuk kehidupan
yang sehat dan aktif.
Dunia
perlu berkoordinasi guna menemukan solusi atas perubahan iklim dan krisiS
pangan. Laporan terbaru krisis pangan itu di tandatangani jose graziano da
silva , derektur jendral FAO, kanayo f. nwanze, presiden international fumd for
agricultural developmen dan ertharin cousin, direktur eksekutif program pangan
dunia.
Para
tokoh ketahan pangan ini bersama-sama menulis artikel berjudul “takckling the
root causes of prices and hunger” guna merespon situasi krisis ini.
Mereka
menyatakan, krisis pangan akan berdampak buruk, pada puluhan juta penduduk
dalam beberapa bulan ke depan. Jika dunia tidak berkoordinasi mengatasinya.
Menurut pengamatan mereka , ada dua masalah utama yang perlu di atasi. pertama
masalah jangka pendek yaitu melonjaknya harga pangan (jagung, gandum dan
kedelai) di pasar dunia. Masalah ini berdampak pada penduduk miskin dan semua
negara yang mengandalkkan pada inpor pangan. Kedua masalah jangka panjang yaitu
cara dunai memproduksi, memerdagangkan dan mengonsumsi pangan di tengah terus
meningkatnya permintaan , populasi dan perubahan iklim. \oleh EKO B HARSONO.
Judul : 1
DARI 8 PENDUDUK DUNIA KELAPARAN
Penulis : EKO B HARSONO.
|
Tujuan
|
842 juta orang mengalami kelaparan kronis pada 2011-2013 atau
sekitar 12 persen dari total penduduk dunia.
|
|
Dasar Pemikiran
|
satu dari delapan orang di dinia mengalami kelaparan parah,
laporan badan pangan dunia (FAO) , selasa (01/10). Sekaligus memperingatkkan
para pemimpin dunia sebagaian wilayah dunia akan gagal menurunkan angka
kelaparan ini pada 2015.
|
|
Data dan Metoda
|
- Jumlah penderita kelaparan di seluruh dunia ini turun 17 persen
dari 1990-1992.
- Angka baru ini lebih rendah dari estimasi terakhir yaitu 868
juta orang pada 2010-2012 dan 1,2 miliyar orang pada 2009
-Metoda : Induktif
|
|
Analisa
|
meski menunjukkan tren menurun, namu upaya untuk mencapai target
millenium development goals (MDG) yaitu menurunkan angka kelaparan hingga
separuhnya pada 2015 akan sulit tercapai.
|
|
Temuan
|
- banyak negara yang belum mencapai tujuan yang diadopsi para
pemimpin dunia di PBB pada 2000.
-“negara-negara yang mengalami konflik selama dua dekade terakhir
memiliki peluang terbesar mengalami kemunduran dalam penurunan angka
kelaparan. “ demikian laporan FAO.
- Negara-negara tak berpantai menghadapi tantangan besar untuk
mengakses pasar dunia . sementara negara-negara dengan infrastruktur buruk
dan institusi lemah menghadapi masalah tambahan lanjut laporan tersebut.
|
|
Kesimpulan
|
Menurut kriteria FAO program pangan dunia (WFF) dan dana
international untuk pembangunan pangan
(FAD) kelaparan adalah kondisi disaat masyarakat tidak memiliki cukup
makanan untuk kehidupan yang sehat dan aktif.
|
|
Rekomendasi
|
Dunia perlu berkoordinasi guna menemukan solusi atas perubahan
iklim dan krisis pangan. Laporan terbaru krisis pangan itu di tandatangani
jose graziano da silva , derektur jendral FAO, kanayo f. nwanze, presiden
international fumd for agricultural developmen dan ertharin cousin, direktur
eksekutif program pangan dunia.
|
|
Kritik dan Saran
|
MATERI : SEJARAH NKRI. Dampak Culture Stelsel menyebabkan
pribumi-pribumi termiskinkan dan kelaparan, terbodohkan dan tidak bias
menyenyam pendidikan, terbelakang dan tidak percaya diri, tertindas oleh
sistem, dan pada akhirnya terjajah secara fisik dan pemikiran.
|
Langganan:
Komentar (Atom)
