Senin, 07 November 2016

Tafsir kalimat

Perkenankan saya menyampaikan pikiran saya mengenai  “Dugaan” Penistaan Agama yang saat ini sedang ramai diperbincangkan di manapun dan oleh siapapun di negeri kita tercinta, Indonesia.

Assalamu’alaikum wr. wb.
Yang Terhormat,
1.  Bapak Presiden RI
2.  Bapak Kapolri cq. Kabareskrim  RI
3.  Bapak Panglima TNI
4.  Bapak Menteri Agama RI
5.  Kemendikbud cq Pusat Bahasa Indonesia
6.  Saudara saudara sebangsa dan Setanah Air

Perkenalan
Saya, Totong Sih Ariwanto, Mantan Lecturer/Dosen Bahasa Indonesia di Pusat Studi Asia Tenggara, Universitas Ho Chi Minh City, Vietnam,  memberikan pendapat, dengan harapan , pendapat ini bisa dibaca dan dipertimbangkan oleh Bapak Bapak yang saya sebut di atas.

A.  Bedah bersama Bahasa Indonesia
Bahasa yang kita pakai sehari hari ini sebenarnya sederhana dan cukup mudah dipahami oleh Bangsa Indonesia. Dalam kaidah KBBI suatu kalimat akan disebut lengkap jika memenuhi unsur SPOK (Subyek, Predikat ,  Obyek dan Keterangan).

Namun bisa saja kalimat itu hanya terdiri dari SPK, SPO, SP bahkan P!!!!
-  Saya makan nasi pakai sendok (SPOK)
- Saya makan pakai sendok (SPK)
- Makan!! (P)   Kalimat Perintah...

Perlu dimengerti , Bentuk Pasif dan Aktif HANYA hanyalah permasalahan  Gramatika/Tata Bahasa.  Maksudnya?.. Isi, makna ataupun esensi yang tersirat dalam suatu kalimat adalah diperankan oleh Predikat.  Baik menggunakan bentuk Pasif maupun Aktif, makna atau isi kalimat TIDAK PERNAH BERUBAH.

Saya makan nasi atau Nasi saya makan,  adalah kalimat YANG SAMA yang maknanya adalah Kegiatan MAKAN.  Penggunaan Bentuk Aktif atau pasif hanya untuk MEMBEDAKAN bagian KALIMAT MANA yang akan ditonjolkan.

Ketika kita gunakan Bentuk Aktif: Saya makan nasi  maka yang INGIN DITONJOLKAN / DITEGASKAN  adalah Saya.  Dalam hal ini ditegaskan yang makan nasi adalah saya BUKAN Badu, Bukan Budi, BUKAN Amir, BUKAN dia tapi SAYA.
Ketika kita gunakan Bentuk  Pasif:   Nasi saya makan, maka yang INGIN DITONJOLKAN / DITEGASKAN  adalah Nasi.  Dalam hal ini ditegaskan yang dimakan adalah NASI BUKAN Jagung, BUKAN pecel, BUKAN Cendol tapi NASI
SANGAT MUDAH DIPAHAMI.

Permasalah Utama.
Saat ini sebagian bangsa Indonesia ramai membicarakan Ucapan Gubernur DKI, Bapak Basuki Tjahaya Purnama (selanjutnya saya tulis BTP).

Ucpan BTP pada Menit ke 19:12 di Pulau Seribu.
Dibohongi PAKAI Surat Al Maidah 51 macem macem itu.
Saya takut masuk neraka, dibodohin itu.

Dengan membaca uraian saya di bagian atas..... akan SANGAT MUDAH menangkap arti , maksud ataupun makna kalimat yang diucapkan BTP.

Kita Bedah bersama
Dibohongi pakai Al Maidah 51, macem macem itu.
Ini kalimat tidak lengkap  hanya ada P dan K.  Tapi sudah cukup mengadung arti sesuai yang diinginkan oleh Predikat yaitu dibohongi atau jika bentuk Aktif...membohongi.  Dalam menit sebelumnya, ucapan ini ditujukan kepada Ibu Ibu yang hadir.  jadi makna dalam kalimat ini sudah sangat jelas yang dibohongi  adalah Ibu Ibu (tentunya Ibu Ibu yang beragama Islam).

Yang tersirat dalam ucapan BTP adalah: Al Maidah dipakai sebagai alat untuk berbohong.  Sangat jelas...

Baik dalam Bentuk Aktif maupun Pasif, makna kalimat tidak akan pernah berubah ,  karena Pesan utama dalam sebuah kalimat terlihat pada PREDIKAT.
Hanya saja ketika sebuah kalimat tidak ada Obyek (Kalimat Intransitif) tentu tidak bisa diubah menjadi bentuk aktif.

B. Pendapat saya Pribadi.
BTB sebagai Gubernur, sudah mengucapkan atau melontarkan Pernyataan bernada  “INSULTING”, (Menuduh, mengina atapun melecehkan),  itu sudah sangat jelas!!!!!  Lihat mimik atau pun nada nya aktu bicara .

Sebagai Pengikut Non-Muslim (ini sama sekali bukan sara)  SANGAT TIDAK PANTAS, dan SANGAT MELAMPAU BATAS, saya ulang SANGAT MELAMPAU BATAS, BTP sebagai pemimpin memasuki AREA keyakinan Orang Lain (Islam), MENGGUNAKAN ayat ayat Al Qur”an  yang sangat DIsucikan oleh Umat Islam,  dengan menuduh atau menghina sebagian orang Islam (dalam hal ini bisa Pemuka Agama Islam- Ulama, Kyai, Ustadz- yang menyampaikan Syiar Islam dan mungkin ayat lain dalam Al Quran, untuk menyeru Ummat Islam memilih Pemimpin yang SEIMAN) secara sadar atapun tidak sadar.

Lebih memprihatinkan, Pemeluk Agama lain (di Medsos) ikut “ Meng-COPAS”menafsirkan dan Ayat suci Al”Quran, demi memcari Pembenaran Ucapan Seoran BTP, yang merupakan Pemimpin bagi wqarga Jakarta.

Sebagai ILUSTRASI lain, banyak Video dan mungkin Kebaktian Sahabat kita yang NON MUSLIM , di mana Pendeta atau Pemuka Agama tersebut MENYERU kepada Jemaatnya untuk pilih AHOK(BTP).  “Ahok itu pilihan Tuhan,  Ahok itu Utusan Tuhan untuk Jakarta”.  Kita pilih Pemimpin yang seiman... dsb..
Salahkah Pendeta yang menyampaikan ajakan tsb?  SAMA SEKALI TIDAK SALAH,  Bahkan KITA WAJIB MENGHORMATI seruan ITU.  Itu Hak Mereka.  Harus dihargai!!!!!   Itulah Keyakinan yang TIDAK BOLEH DICAMPURI oleh Penganut agama lain. Islam pun tidak boleh memasuki area tersebut.......

Coba apa jadinya, maaf, ketika  dalam seruan Kebaktian tersebut , ada yang masuk dan menyela  “MAU SAJA DIBOHONGI PAKAI BIBEL!!!!!  Tidak boleh kan... Pasti tidak boleh dan akan menimbulkan permasalahan serius.....

Ketika giliran Ulama menyampaikan seruan ini, kenapa semua bereaksi negative , Sara, bahkan Seorang Menteri Agama dan Presiden pun minta AGAMA TIDAK BOLEH DIPAKAI atupun DIBAWA UNTUK BERPOLITIK!!!!!!! Kenapa?  Sekali kenapa????

Sangat DISESALKAN rujukan yang dipakai oleh seorang “AHLI BAHASA” Pusat Bahasa Indonesia, Ibu Yeyen Maryani,  memberikan keterangan bahwa karena ini KALIMAT PASIF maka tidak ada unsur Penistaan.  Saya sarankan kepada Mendikbud dalam hal ini Pusat Bahasa Indonesia, untuk mendiskusikan ulang Pernyataan Ahli Bahasa tsb., Karena pernyataan itu sekarang banyak “ di-COPAS” oleh Netizen tanpa mereka mengerti makna dari kalimat yang diucapkan BTP.  Sekali lagi makna kalimat bukan ditentukan oleh bentuk Pasif ataupun Bentuk Aktif, tapi lebih ditentukan oleh Predikat......  dan akan LEBIH MENYESATKAN jika dipakai oleh Bareskrim sebagai Rujukan dalam MEMUTUSKAN KASUS INI.

Penutup
Bahwa sudah demikian adanya , Bangsa Indonesia ini terdiri dari berbagai Suku, Ras Agama dan Keyakinan.  Ada yang perlu dipahami Jangan memasuki Urusan Agama yang Diyakini seseorang.   Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Bahwa kita hidup di Indonesia,  tetangga dan bahkan Adik, kakak dan Saudara kita ada yang Islam, Katholik, KristenBudha, Hindu, Kong Hu Chu bahkan tidak ber- Tuhan.  Itu urusan masing masing.  Kita tetap hidup rukun berdampingan, bercanda tanpa menyinggung satu sama lainnya.

Bahwa, SAMPAI LEBARAN KUDA (meminjam istilah SBY, 2016)  yang namanya Air dan Minyak Sayur, Tidak akan pernah bisa disatukan, Dikocok, Diudeg, dengan energy Sedahsyat Bom Atom pun, mereka tidak akan bersatu.  Tetapi coba berikan warna yang indah pada air, minyak, letakkan dalam SATU gelas yang indah,  biarkan saja begitu.... pasti akan menjadi suatu Ornamen yang indah dilihat dan mungkin dirasakan.

Demo yang dihadiri oleh Ratusan ribu Ummat Islam bukanlan Masalah Pilkada.  Namun itu adalah Demo Sebagian Ummat dari berbagai wilayah Indonesia yang merasa Tersinggung hanya karena Kesombongan, Arogansi, Tutur kata yang tidak Bijak, merasa paling benar..... dari seorang Pemimpin yang ada di kita.  I
Tentu akan indah  jika kita memaafkan katanya begitu... Namun harus dingat.... kata kata itu telah terlontar, telah terucap, dan telah menyakiti Ummat Islam

Semoga keadilan MASIH bisa ditegakkan di Bumi Pertiwi, Indonesia.  Jangan lagi ada Diskriminasi Hukum, tajam ke bawah Tumpul ke atas.

Saya sepenuhnya bertanggung jawab terhada isi tulisan ini.
Semoga Allah SWT memberikan hidayah bagi Pemimpin bangsa Ini untuk emngambil keputusan yang tepat dengan Rujukan yang tepat dan benar.   Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.
Bogor, November 2016
Totong Sih Ariwanto

Untuk kemaslahatan..monggo yang mau share....

Minggu, 06 November 2016

Jokowi Cuci Tangan, di Belakang JK

*SUNATULLAH SEJARAH AKAN BERULANG KEMBALI*  VIVA.co.id – *Guru Besar Universitas Pertahanan, Prof.Salim Said, menganalisis sikap Presiden Joko Widodo yang memberi perintah kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menemui pengunjuk rasa tanggal 4 November 2016.* Menurutnya, cara-cara seperti itu mengingatkannya tentang sosok Presiden RI pertama Soekarno kepada Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban, Soeharto tahun 1966 ihwal pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Said menyimpulkan, Presiden Jokowi sudah lepas tangan dalam penegakan hukum terhadap calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dengan mendelegasikan Wapres JK untuk memberikan jaminan kepada perwakilan demonstran. "Saya hanya ingin berbagi ingatan kepada anda, ketika kemarin Pak JK itu mengumumkan Ahok akan diperiksa dalam dua minggu, itukan adalah sebuah keputusan. Kita tahu itu perintah Pak Jokowi kepada Pak Wapres, karena Pak Jokowi tidak ada di Istana, saya tiba-tiba teringat Supersemar," kata Salim Said dalam diskusi bertajuk 'Setelah demo 411' di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 5 November 2016. Berdasarkan dokumen yang Ia temukan ketika melakukan penelitian dan menulis buku mengenai Presiden Soeharto, Orde Baru dan Gerakan Satu Oktober (Gestok), ada kegalauan Presiden Soekarno menghadapi desakan massa agar Presiden membubarkan PKI. Di satu sisi, Soekarno tidak bisa lagi mempertahankan PKI. Namun di sisi lain, ia tidak kuasa membubarkan PKI secara langsung, karena teori Nasakom PKI sudah digadang-gadangnya ke dunia internasional. "’Di mana muka saya,’ kata Bung Karno kepada Pak Harto. Kemudian Pak Harto jawab, 'serahkan kepada saya pak'. Saya temukan dokumen itu dalam penelitian saya, Supersemar itu sebenarnya tidak dramatis seperti kita bayangkan. Itu sudah understanding antara Pak Harto dengan Bung Karno, tanggung jawab diambil alih oleh Pak Harto untuk membubarkan PKI, sehingga Bung Karno tidak harus yang membubarkan PKI," Said menjelaskan. Mantan Duta Besar RI untuk Republik Ceko ini menilai tekanan yang dihadapi Presiden Jokowi terkait Ahok ini begitu kuat. Sehingga, muncul kesan bahwa Jokowi sebenarnya sudah lelah untuk 'membela' Ahok. "Pokoknya itu beban. Ahok itu sudah menjadi beban bagi Jokowi. Jokowi kan masih punya rencana lebih banyak, lebih dari dari sekadar rencana Ahok di Jakarta, after all, sebagian besar apa yang dikerjakan Ahok ini sebenarnya sudah dimulai oleh Jokowi. Idenya dari Jokowi, sekarang Jokowi itu capek," ujarnya. Karena itu, apa yang dilakukan Presiden Jokowi saat demo 4 November 2016 kemarin, kata Said, adalah pengulangan sejarah. Tapi bedanya, Ahok dinilainya sudah banyak menciptakan musuh, sehingga bahaya bila dipertahankan. Akhirnya, diberikan perintah kepada Wapres JK agar memutuskan. "Ahok menciptakan banyak musuh seperti saya bilang tadi, tiap pagi bangun dia lihat gadget, 'musuh gue siapa hari ini?’ Segala macam dia musuhi. Capek Jokowi. Tapi Jokowi juga seperti Bung Karno tidak mau membubarkan PKI, jadi lepaskan saja kepada Pak JK, dan Pak JK lah yang memutuskan bahwa dia akan diproses dalam dua minggu," jelasnya. Sayangnya, bila dua minggu nanti proses hukum terhadap Ahok mengenai kasus dugaan penistaan agama tidak juga ditingkatkan oleh Polri, maka Jokowi tidak bisa disalahkan. Pasalnya, proses hukum dua minggu adalah pernyataan JK di depan massa aksi, bukan dari Presiden Jokowi. "Dengan demikian Pak Jokowi datang tengah malam, dia bisa mengatakan saya tidak pernah memutuskan. Saya memang memberikan kekuasaan kepada Wapres, tapi saya tidak pernah bikin keputusan tentang bagaimana nasibnya Ahok, itu kerjanya JK, begitu," kata Said. *"Jadi sebagai orang yang mempelajari politik dan sejarah politik Indonesia, saya segera melihat itu, oh Jokowi sudah lepas tangan, kalau mau pakai kata lain, cuci tangan, 'Ahok you jalanin nasibmu, gua nggak mau mikul lu lagi, lu terlalu banyak mintanya. Gua capek'," ucap Salim*. (ase)

Rabu, 13 November 2013

konsep kepemimpinan menurut ki hajar dewantara



1.             Konsep Pemimpin dan Proses 5 K
Pemimpin adalah sosok manusia yang dapat memberikan ketauladanan kepada para pengikutnya (ing ngarso sung tulodo), membangun kehendak untuk menghasilkan suatu karya/ produk asli ditengah-tengah para pengikutnya (ing madyo mangun karso), dan mampu memberikan dorongan untuk lebih bersemangat untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih bermanfaat bagi para pengikutnya (tut wuri handayani).
Seorang pemimpin bangsa harus menguasai dan memiliki pemahaman Ilmu Kebangsaan sebagai pengetahuan yang bermakna dan berarti serta tepat guna bagi pembangunan dan pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, ketauladanan dapat berlangsung sesuai dengan jati diri bangsa.
Begitu juga, seorang pemimpin secara garis besar harus menguasai dan memiliki pemahaman tentang Teknik Produksi untuk mengambangkan suatu produk berkualitas secara orisinil. Sehingga, dapat memotivasi kehendak rakyat untuk menghasilkan produk-produk unggulan.
Lebih penting lagi, seorang pemimpin harus menguasai dan memiliki penguasaan Manajemen untuk menggerakkan sumber daya yang ada, meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya finansial, dan sumber daya organisasi. Sehingga, dorongan untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang bermanfaat dapat terus dilaksanakan sesuai dengan tuntutan kehidupan bangsa dan Negara yang terus akan berkembang.
Ilmu (Science), teknik (Engineering), dan manajemen (Management) adalah merupakan tiga faktor utama yang membentuk Teknologi dan Norma. Oleh karena itu, seorang pemimpin bangsa harus benar-benar menguasai dan memiliki pemahaman tentang teknologi dan norma (aturan manusia). Artinya, seorang pemimpin bangsa dengan kemampuan penguasaan teknologi dan norma kebangsaan dan kenegaraan akan mampu menjalankan peran dan fungsi dari ketauladanan, motivator, dan pendorong untuk pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sehingga, kepemimpinan dari seorang pemimpin dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengaktualisasikan moralnya kedalam suatu tatanan etika yang berlaku disuatu lingkungan hidup. Dalam hal ini pemimpin akan menggerakkan moral yang subyektif masuk ke dalam tatanan etika yang selalu memiliki kebenaran objektif, yaitu suatu kebenaran yang diterima oleh semua orang yang hidup di lingkungan tersebut.

Senin, 11 November 2013

PEMILIHAN UMUM ADALAH SISTEM DEMOKRASI YANG DI TERAPKAN DI INONESIA



PEMILU MEMBINATANGKAN MANUSIA INDONESIA: "PILPRES-PILKADA-PILLEG Pemilu Lainnya" Telah Menghancurkan ETIKA DAN MORAL BANGSA!

Aristoteles menyatakan demokrasi dengan pemilu untuk penghitungan jumlah suara terbanyak adalah BURUK!
Bila kita ilustrasikan dengan binatang bahwa setiap binatang itu memiliki suara yang berbeda-beda. Kalau dari suara itu kita hitung jumlahnya, kita akan tahu binatang apa dengan suara terbanyak?
Misalnya, suara kambing berbeda dengan suara kerbau berbeda juga dengan suara sapi berbeda juga dengan suara ayam berbeda juga dengan suara harimau dan berbeda dengan suara binatang-binatang lainnya...Hanya manusia bodoh dan bersedia dibinatangkan lah yang mau ikut pemilu. Bahasa lainnya, PEMILU itu dapat dikatakan sebagai sarana 'MEMBINATANGKAN MANUSIA'. Manusia itu tidak menggunakan SUARA, tetapi menggunakan AKAL untuk mengangkat pemimpinnya!
Pancasila dasar Indonesia merdeka telah menunjukkan itu (penggunaan akal sehat dan waras di dalam mengangkat pemimpin) dengan jelas dan gamblang. UUD '45 konstitusi negara RI dalam TATANAN SISTEM NKRI pun tidak melegitimasi dilaksanakannya PEMILU. Tetapi, UUD 2002 (UUD '45 yang diubah oleh MPR-RI 1999-2004) lah yang melegitimasi keberadaan partai-partai politik dan pemilu sebagai sarana untuk mengangkat pejabat tinggi negara RI. Sehingga, Rakyat Indonesia, akhirnya dewasa ini, telah menjadi bangsa yang rusak etika dan moralnya! Kembalilah kita kepada PANCASILA dan UUD '45! STABILKAN SEGERA PREAMBULE UUD '45! ASHK.

Jumat, 08 November 2013

Epistimologi Bangsa Indonesia (EBI)




"Nama" adalah sesuatu yang 'unique'.

Setiap "Nama" memiliki:
(1) Unsur pembentuk;
(2) Senyawa dan zatnya yang berbeda-beda;
(3) Sifat yang yang tidak sama; dan
(4) Bentuk.
Makanya "Nama" itu adalah suatu kepastian.

Misalnya Gula sebagai "Nama" memiliki:
(1) Unsur C (Carbon), H (Hidrogen), dan O (Oksigen) sebagai pembentuk;
(2) C6H12O6 sebagai senyawanya dan Glukosa adalah zatnya;
(3) Rasa manis adalah sifatnya; dan
(4) Padat dan cair adalah bentuknya.
Jadi kalau tidak memenuhi persyaratan tersebut "PASTI BUKAN GULA."

Inipun bisa diterapkan untuk MENGURAI APA ITU Bangsa Indonesia dan NKRI sebagai "Nama." KITA AKAN mencoba untuk menguraikannya! 
NAMA: Bangsa Indonesia

  1. Unsur Pembentuk: Yong-yong (pemuda-pemuda)
  2. Senyawa/Zatnya : Orang Indonesian Asli
  3. Sifatnya: Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Rakyat Indonesa
  4. Bentuknya: Pemuda Pergerakan

 
Agus Salim Harimurti Kodri, Kepala GARDU BESAR PEJUANG TANPA AKHIR (PETA).

bagaimana keadaan bangsa indonesia hari ini ?

Nama : Negara Republik Indonesia (NRI)
  1. Unsur Pembentuknya : Komisi Pemilihan Umum (KPU)
  2. Senyawa/Zatnya: Oramg Indonesia Asli
  3. Sifatnya : Menindas Rakyat Indonesia
  4. Bentuknya: Partai-Partai.

By: Lalu Samsul Rijal (Djong Lombok)

analisis artikel tentang kelaparan yang terjadi di seluruh dunia akibat sistem pemerintahan yang demokrasi



Artikel Lalu Syamsurizal

1 DARI 8 PENDUDUK DUNIA KELAPARAN
Sebanyak 842 juta orang mengalami kelaparan kronis pada 2011-2013 atau sekitar 12 persen dari total penduduk dunia.
Jakarta HN, satu dari delapan orang di dinia mengalami kelaparan parah, demikian laporan badan pangan dunia (FAO) , selasa (01/10). Sekaligus memperingatkkan para pemimpin dunia sebagaian wilayah dunia akan gagal menurunkan angka kelaparan ini pada 2015.
Dalam laporan terkait ketahanan pangan FAO memperkirakan sebanyak 842 juta orang mengalami kelaparan kronis pada 2011-2013 atau sekitar 12 persen dari total penduduk dunia. Jumlah penderita kelaparan di seluruh dunia ini turun 17 persen dari 1990-1992.
Angka baru ini lebih rendah dari estimasi terakhir yaitu 868 juta orang pada 2010-2012 dan 1,2 miliyar orang pada 2009, meski menunjukkan tren menurun, namu upaya untuk mencapai target millenium development goals (MDG) yaitu menurunkan angka kelaparan hingga separuhnya pada 2015 akan sulit tercapai.
Penyebabnya banyak negara yang belum mencapai tujuan yang diadopsi para pemimpin dunia di PBB pada 2000.
“negara-negara itu yang mengalami konflik selama dua dekade terakhir memiliki peluang terbesar mengalami kemunduran dalam penurunan angka kelaparan. “ demikian laporan FAO.
Negara-negara tak berpantai menghadapi tantangan besar untuk mengakses pasar dunia . sementara negara-negara dengan infrastruktur buruk dan institusi lemah menghadapi masalah tambahan lanjut laporan tersebut.
Menurut kriteria FAO program pangan dunia (WFF) dan dana international untuk pembangunan pangan  (FAD) kelaparan adalah kondisi disaat masyarakat tidak memiliki cukup makanan untuk kehidupan yang sehat dan aktif.
Dunia perlu berkoordinasi guna menemukan solusi atas perubahan iklim dan krisiS pangan. Laporan terbaru krisis pangan itu di tandatangani jose graziano da silva , derektur jendral FAO, kanayo f. nwanze, presiden international fumd for agricultural developmen dan ertharin cousin, direktur eksekutif program pangan dunia.
Para tokoh ketahan pangan ini bersama-sama menulis artikel berjudul “takckling the root causes of prices and hunger” guna merespon situasi krisis ini.
Mereka menyatakan, krisis pangan akan berdampak buruk, pada puluhan juta penduduk dalam beberapa bulan ke depan. Jika dunia tidak berkoordinasi mengatasinya. Menurut pengamatan mereka , ada dua masalah utama yang perlu di atasi. pertama masalah jangka pendek yaitu melonjaknya harga pangan (jagung, gandum dan kedelai) di pasar dunia. Masalah ini berdampak pada penduduk miskin dan semua negara yang mengandalkkan pada inpor pangan. Kedua masalah jangka panjang yaitu cara dunai memproduksi, memerdagangkan dan mengonsumsi pangan di tengah terus meningkatnya permintaan , populasi dan perubahan iklim. \oleh EKO B HARSONO.

Judul : 1 DARI 8 PENDUDUK DUNIA KELAPARAN
Penulis : EKO B HARSONO.
Tujuan
842 juta orang mengalami kelaparan kronis pada 2011-2013 atau sekitar 12 persen dari total penduduk dunia.
Dasar Pemikiran
satu dari delapan orang di dinia mengalami kelaparan parah, laporan badan pangan dunia (FAO) , selasa (01/10). Sekaligus memperingatkkan para pemimpin dunia sebagaian wilayah dunia akan gagal menurunkan angka kelaparan ini pada 2015.
Data dan Metoda
- Jumlah penderita kelaparan di seluruh dunia ini turun 17 persen dari 1990-1992.
- Angka baru ini lebih rendah dari estimasi terakhir yaitu 868 juta orang pada 2010-2012 dan 1,2 miliyar orang pada 2009
-Metoda : Induktif
Analisa
meski menunjukkan tren menurun, namu upaya untuk mencapai target millenium development goals (MDG) yaitu menurunkan angka kelaparan hingga separuhnya pada 2015 akan sulit tercapai.
Temuan
- banyak negara yang belum mencapai tujuan yang diadopsi para pemimpin dunia di PBB pada 2000.
-“negara-negara yang mengalami konflik selama dua dekade terakhir memiliki peluang terbesar mengalami kemunduran dalam penurunan angka kelaparan. “ demikian laporan FAO.
- Negara-negara tak berpantai menghadapi tantangan besar untuk mengakses pasar dunia . sementara negara-negara dengan infrastruktur buruk dan institusi lemah menghadapi masalah tambahan lanjut laporan tersebut.
Kesimpulan
Menurut kriteria FAO program pangan dunia (WFF) dan dana international untuk pembangunan pangan  (FAD) kelaparan adalah kondisi disaat masyarakat tidak memiliki cukup makanan untuk kehidupan yang sehat dan aktif.
Rekomendasi
Dunia perlu berkoordinasi guna menemukan solusi atas perubahan iklim dan krisis pangan. Laporan terbaru krisis pangan itu di tandatangani jose graziano da silva , derektur jendral FAO, kanayo f. nwanze, presiden international fumd for agricultural developmen dan ertharin cousin, direktur eksekutif program pangan dunia.
Kritik dan Saran
MATERI : SEJARAH NKRI. Dampak Culture Stelsel menyebabkan pribumi-pribumi termiskinkan dan kelaparan, terbodohkan dan tidak bias menyenyam pendidikan, terbelakang dan tidak percaya diri, tertindas oleh sistem, dan pada akhirnya terjajah secara fisik dan pemikiran.